Pendidikan Gaya Baru Kejahatan Intelektual

SEKOLAH SESAT

    Jalan buntu manusia bagaikan memakan buah simalakama saat memandang terjang mengenyam bangku pendidikan formal diusia dini hingga remaja terjebak dalam doktrinisasi sang “Mahaguru” aku kutipkan betapa ku hargai jasa ketulusan hati mereka mendidik kami hinga mampu memetakan berbagai problem dan masalah ketimpangan social ataupun pada lingkungan hidup dimana tempat setiap aku berpijak menghitung butiran pasir debuh jalanan yang beraromakan bauh menyengat busuk membelukar hidungku berhenti sejenak bernafas, mataku berhenti untuk berkedip menatap bangunan-bangunan tua berdiri lapuk tanpa penghuni bagaikan singgah sana kerajaan yang tak bertuan.

“tubuhku mulai tegang saat berdialog dengan otakku, aku pikir ah masa bodoh, mungkin saja mereka sedang tertidur pulas membalut mimpi-mimpinya yang indah itu, toh buat apa aku menggangunya”.
Sudalah aku mulai bosan dengan keresahan ini tumbuhnya mimpi bayang ilusi membuahkan keresahan, gagasan cemerlang tanpa terbentuk materi nan menjijikan untuk ku ilham. Aku terpesona dengan ajaran Mahaguruku begitu bijaknya ia mengajarkanku arti nilai tentang kemanusiaan, tentang hidup, tentang cinta, kebenaran, keadilan dan kejujuran ataupun tentang lingkungan yang tetap slalu kami melestarikannya hingga anak cucu kami nanti menikmati.

Dibangku sekolah, pendidika adalah sebuah ajaran tentang moralitas dan relijius terhadap manusia, menanamkan rasa cinta terhadap sesama mahluk yang hidup ciptaan sang ilah. Metode pembimbingannya merangkul otak-otak pelajar agar tak menjadi kolot saat perkembangan dunia modern dari pengaruh globalisasi secara aggregate. Bagaimanapun seorang guru menerapkan ajaran yang mulia, kesopanan, asusila, norma hingga tercerminkanlah apa yang menjadi cita-cita tujuan hidup. Sampai saat ini pendidikan itu terus mengalir tanpa terkecuali jika sang Mahaguru tadi telah mati terkubur. Mendidik seorang anak bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan namun pendidikan menjadi suatu impian bagi anak agar terarah mendongkrak kreatifitas yang perlu di awasi seorang yang lebih dulu memahami. Maka itu siswa adalah buah dari turunan guru yang setiap berinteraksi dengan siswa/i dalam ruang, Suatu penghargaan besar untuk guru.

Tulisan ini membuat hati semakin tergoyah hasrat dengan pendidikanku, mulai aku tuliskan beberapa bagian akankah kita adalah siswa/i murni dari aktualisasi pengajaran selama dikonsumsi otak dalam ruang tatapan mata mendoktrin otak menjadi definisi oleh sang guru pada setiap pelajar menjadi manusia-manusia sempurna yang sesuai dengan cita-cita tadi?
Sebut saja dia bapak/ibu diluar rumahku ( guru ) kalimat itu selalu di dengungkan sampai terasa tuli ; nak lakukanlah sesuatu yang jujur terhadap sesama, jangan pernah membebani orang lain atau menindas hak-hak kemanusiaan. Selalu luangkanlah waktumu dengan kebaikan, terapkanlah dengan akhlak muliah jika kau mengiginkan surga.
Dari sinilah kalimat-kalimat itu dilontarkan membuat tuli pendengaranku sampai canduku hilang dengan kebebsan. Aku pikir ini adalah bentuk ajaran yang mulia bagi mereka, ternyata hanyalah bumbu-bumbu sedap membuat kami pulas tertidur. Aku bermimpi tinggi dengan ajaran Maha guruku, terlintas benak mencari jalan untuk aku lalui menuruni tingkat anak tangga doktrinasi otakku yang telah mereka telanjangi. Tidak mencerminkan seperti apa yang mereka ajarkan kepada anak didiknya, hanya Buat tiap hari aku kesekolah memakai baju kusam setia menemanimu mendengar celoteh kalimat indahmu padahal kebebasan kami saja masih kau batasi dan kau bungkam nalar kami untuk bertindak bebas. Dimana letak ajaranmu tentang cita-cita tadi soal kemanusiaan sedangkan kau tidak mencerminkannya, suara latah!!!
Apakah aku berdosa menghujatmu dengan kalimat tak sopan?

Dilarang kritik

Manusia pada umumnya adalah insan yang memiliki naluri besar untuk menciptakan rasa penasaran terhadap timbulnya suatu dugaan yang belum sempat ia mampu pahami atau ketahui begitu jelas hingga mencari alternative bagaimanapun agar menutupi rasa penasarannya menjadi kepuasan yang mengelegah pikiran dan hatinya. Sejenak saat kita melihat kondisi saat ini ketika seorang pelajar mulai membendungi sejuta pertanyaan yan timbul akibat doktrin berupa teori dan gagasan dari seorang guru maka disitulah pesta pora otak mentransferkan dorongan mulut agar bersuara mensinerjikan pertanyaan kepada nara sumber kerasio biar lebih memahami objek  pengetahuan yang diperkenalkan, condongnya jika seorang pelajar mampu memberanikan diri untuk mempertanyakan dengan rinci tentang suatu ajaran tersebut disinilah kadang kesalahan guru merasa dirinya dibantai oleh singah-singah betina yang amat buas, merasa bahwa argument dari penjelasan mereka harus selalu didengarkan dan dikonsumsi oleh otak tanpa bertanya debat tentang kebenaran pengetahuan yang dikaji secara radikal bukannya langsung menelannya. Apakah ini wujud pendidikan sesungguhny? Pelajar bagaikan memory handphone alat penyimpana data sang maha”Guru” memindahkan teori-teori ajarnnya lewat USB suara bising. 
Jika manusia adalah robot industry maka wajar kehidupan ini hanyalah warisan sebelumnya untuk mengagitasikan warisan mereka yang tak berkembang, berubah belum tentu berkembang, dan berkembang belum tentu maju. Pendidikan adalah metode ajaran kebebasan bagi setiap manusia untuk bernalar dan berargumen.
Dalam kehidupan sekarang ini pendidikan seacam ajaran tanpa menkritisi itu menjadi kewajiban siswa/I, tidak menyadari lebih jauh asal muasal apa yang sebenarnya di pelajar sebab banyak guru hanya berlandaskan eksperiman sejarah para tokoh yang tak jelas wajah cerita hidup mereka sesungguhnya. Jika pada sebuah ruang ada seorang pelajar memiliki rasa penasaran keingintahuan tentang sesuatu hal, maka dia akan bertanya hingga merasa puas dari apa yang membuatnya  penasaran, bagaikan wanita yang sedang mengidam bayi untuk memenuhi hasrat mereka terpenuhi. Nuansa dan aturan sekolah maupun perguruan tinggi saat ini tidaklah jauh bedanya, mahasiswa adalah bocah ingusan yang selalu mendapat bimbingan membentengi kebebasan bereksperis di tiap tiap kampus, membatasi ruang ruang demokrasi yang dituntun menjalankan kewajiban mereka, belajar, cepat lulus, mendapatkan nilai bagus dan orientasi mendapatkan pekerjaan. Batasan itu sangat kompleks ketika kita pahami dari SD/Perguruan tinggi, acuan yang menjadi salah satu dasarnya kebebasan beekspresi mahasiswa yang dilarang, rambut gondrong, pakaian compang camping dan lain lain, apalagi meninjau keputusan Dikti nomor 24 tahun 2002 yang melarang masuknya organisasi ekstra mahasiswa untuk belajar diluar kampus tanpa keterikatan, membatasi jam malam terhadap mahasiswa, apakah ini bukan suatu hal yang kolot untuk membunuh karakter dan kreatifitas? Pendidikan menuntut bagaimana seorang pelajar saling saing dalam ruangan agar mendapatkan nilai yang memuasakan menjawab soal-soal yang tak berguna ( pendidikan orientasi profit saling saing membunuh kawan ) sudah dipelajari berulang ulang kali. Maka menjadi suatu hal kewajaran jika masyarakat Indonesia telah duduk dikekuasaan pemerintahan melupakan rakyat golongan bawah untuk diperhatikan jika kita melihat wajah pendidikan saling berkompetisi  membunuh yang lain atau saling membodohi dalam istilah kasarnya. Lihat saja ajaran anak SD yang telah terdoktrin dari bocah ingusan tak tahu menahu, sebenarnya memang untuk menghilangkan budaya suap atau korupsi untuk saling tidak memberi tahu jawaban soal-soal itu akan tetapi disinilah kita di didik berkompetisi membunuh kawan, begitu pulah di perguruan tnggi tidak jauh bedah nuansa pendidikannya hanyalah mengganti kulit eksistensinya saja. Pendidikan menciptakan sesuatu yang ilmiah, ilmiah di ciptakan metode pengetahuan dari regulasi ajaran berbagai sumber, “Menciptakan bukan di ciptakan”. Apakah kita sudah menciptkan suatu karya ilmiah untuk menjadi ilmu dari pengetahuan yang kita dapatkan di bangku pendidikan kita? Saya tegaskan bahwa pendidikan yang diajarkan tidak merubah sama sekali soal kemanusiaan, tidak ada ajaran mendorong manusia untuk menciptakan sesuatu hal yang baru, dari 200 tahun yang lalu hingga sekarang ini tidak ada yang berubah dengan ajaran pendidikan yaitu meneruskan ajaran para ilmuan masa lampau, mengembangkan pemikiran mereka, tidak ada suatu hal yang baru untuk di ciptakan, hemat saya ajaran ini bukan baru namun meneruskan jadi bisa kita simpulkan pendidikan turunan warisan para ilmuan. Toh itu itu saja yang diajarkan untuk pelajar. Mengkritisi secara mendalam saja suara kita sudah dibungkam, berekspresi saja kita sudah dibatasi, bernalar saja kita dilarang bahwa harus menghafal temuan tokoh dari titik, koma dan lain lain, menerima dengan mentah apa yang diajarkan, mencatat dan menghafa, apakah ini bukan budaya konsumtif yang dibangun dalam mekanisme system pendidikan sekarang? Bisakah anda menjawab dengan rasional bahwa pendidikan saat ini telah memajukan perkembangan otak anak didik, sadar tidak yang di ajarkan oleh seorang guru, anak didik itu bagaikan ikan yang dipaksakan memanjat pohon, ikan yang dipaksakan berlari, seumur hidup ikan itu akan memikirkan dirinya bodoh, mengubah jutaan orang menjadi robot, sadarkah anda suda berapa banyak anak yang seperti ikan? Berenang melawan arus dikelas untuk menjadi yang terbaik yang pada akhirnya menyimpulkan dirinya sendiri bahwa tidak memiliki bakat dan potensi dan aku seorang anak yang bodoh, merasa tidak berguna dengan dirinya, padahal Einstein pernah berkata “setiap orang adalah jenius” pendidikan saat ini adalah Pembunuh, yah..pembunuh kreatifitas. Hidup berindividu dan sebagai pelaku kejahatan intelektual, tidak ada yang diajarkan untuk memanusiakan manusia yang lebih mulia. Apakah anda khawatir dengan pendidikan saat ini, memikirkan anak anda, adik dan keluargamu yang akan masuk nanti di bangku sekolah? Ketika anda membaca tulisan saya yang sedikit menguak system pendidikan, apakah anda resah dan memberikan solusi merestorasi pendidikan dasar? Atau mungkin semua apa yang telah saya tulis ini tak benar adanya sehingga kita akan membiarkan ia terus mengalir sepanjang masa ke generasi kita? Saya tidak memaksakan kalian untuk berpikir keras mengenai pendidikan akan tetapi sadar akan peran pendidikan secara esensinya, tidak memaksa pembaca untuk merubah metode pendidikan primitive, tapi setidaknya muncullah kesadaran pendidikan yang salah telah kita dapatkan, bebas, bebas, bebas itu adalah pilihan kalian ketika membaca tulisan saya menjadi aksi dan reaksi.

    Pendidikan adalah komoditas, orang miskin tak boleh sekolah.

Penulis : La Ode Sunarto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenail Unsur-Unsur Tindak Pidana

Ini Dia Mengapa Seseorang Butuh Penasehat Hukum Dalam Tindak Pidana

Pelanggaran Kode Etik dalam Penerapan Seleksi PPK, KPU dan Bawaslu Menabrak Undang-Undang